Nama Resmi : Kabupaten Tasikmalaya
Ibukota : Singaparna
Luas Wilayah: 2.563,35 km²
Jumlah Penduduk: 2.563,35 Jiwa
Wilayah Administrasi:Kecamatan : 39
Bupati : H. UU Ruzhanul Ulum, S.E.
Wakil Bupati: H. ADE SUGIANTO, S.IP
Alamat Kantor: Jl. Mayor Utarya No. 1, Tasikmalaya - Jawa Barat
Telp. (0265) 330945, 336450
Fax. (0265) 333937
Dimulai pada abad ke VII sampai abad ke XII di wilayah yang
sekarang dikenal sebagai Kabupaten Tasikmalaya, diketahui adanya suatu bentuk
Pemerintahan Kebataraan dengan pusat pemerintahannya di sekitar Galunggung,
dengan kekuasaan mengabisheka raja-raja (dari Kerajaan Galuh) atau dengan kata
lain raja baru dianggap syah bila mendapat persetujuan Batara yang bertahta di
Galunggung. Batara atau sesepuh yang memerintah pada masa abad tersebut adalah
sang Batara Semplakwaja, Batara Kuncung Putih, Batara Kawindu, Batara
Wastuhayu, dan Batari Hyang yang pada masa pemerintahannya mengalami perubahan
bentuk dari kebataraan menjadi kerajaan.
Kerajaan ini bernama Kerajaan Galunggung yang berdiri pada tanggal 13
Bhadrapada 1033 Saka atau 21 Agustus 1111 dengan penguasa pertamanya yaitu
Batari Hyang, berdasarkan Prasasti Geger Hanjuang yang ditemukan di bukit Geger
Hanjuang, Desa Linggawangi, Kecamatan Leuwisari, Tasikmalaya. Dari Sang Batari inilah mengemuka ajarannya yang
dikenal sebagai Sang Hyang Siksakanda ng Karesian. Ajarannya ini masih
dijadikan ajaran resmi pada jaman Prabu Siliwangi (1482-1521 M) yang bertahta
di Pakuan Pajajaran. Kerajaan Galunggung ini bertahan sampai 6 raja berikutnya
yang masih keturunan Batari Hyang.
Periode selanjutnya adalah periode pemerintahan di Sukakerta dengan Ibukota di
Dayeuh Tengah (sekarang termasuk dalam Kecamatan Salopa, Tasikmalaya), yang
merupakan salah satu daerah bawahan dari Kerajaan Pajajaran. Penguasa pertama
adalah Sri Gading Anteg yang masa hidupnya sejaman dengan Prabu Siliwangi.
Dalem Sukakerta sebagai penerus tahta diperkirakan sejaman dengan Prabu
Surawisesa (1521-1535 M) Raja Pajajaran yang menggantikan Prabu Siliwangi.
Pada masa pemerintahan Prabu Surawisesa kedudukan Pajajaran sudah mulai
terdesak oleh gerakan kerajaan Islam yang dipelopori oleh Cirebon dan Demak.
Sunan Gunung Jati sejak tahun 1528 berkeliling ke seluruh wilayah tanah Sunda
untuk mengajarkan Agama Islam. Ketika Pajajaran mulai lemah, daerah-daerah
kekuasaannya terutama yang terletak di bagian timur berusaha melepaskan diri.
Mungkin sekali Dalem Sukakerta atau Dalem Sentawoan sudah menjadi penguasa
Sukakerta yang merdeka, lepas dari Pajajaran. Tidak mustahil pula kedua
penguasa itu sudah masuk Islam.
Periode selanjutnya adalah pemerintahan di Sukapura yang didahului oleh masa
pergolakan di wilayah Priangan yang berlangsung lebih kurang 10 tahun.
Munculnya pergolakan ini sebagai akibat persaingan tiga kekuatan besar di Pulau
Jawa pada awal abad XVII Masehi: Mataram, banten, dan VOC yang berkedudukan di
Batavia. Wirawangsa sebagai penguasa Sukakerta kemudian diangkat menjadi Bupati
daerah Sukapura, dengan gelar Wiradadaha I, sebagai hadiah dari Sultan Agung
Mataram atas jasa-jasanya membasmi pemberontakan Dipati Ukur. Ibukota negeri
yang awalnya di Dayeuh Tengah, kemudian dipindah ke Leuwiloa Sukaraja dan
“negara” disebut “Sukapura”.
Pada masa pemerintahan R.T. Surialaga (1813-1814) ibukota Kabupaten Sukapura
dipindahkan ke Tasikmalaya. Kemudian pada masa pemerintahan Wiradadaha VIII
ibukota dipindahkan ke Manonjaya (1832). Perpindahan ibukota ini dengan alasan
untuk memperkuat benteng-benteng pertahanan Belanda dalam menghadapi
Diponegoro. Pada tanggal 1 Oktober 1901 ibukota Sukapura dipindahkan kembali ke
Tasikmalaya. Latar belakang pemindahan ini cenderung berrdasarkan alasan
ekonomis bagi kepentingan Belanda. Pada waktu itu daerah Galunggung yang subur
menjadi penghasil kopi dan nila. Sebelum diekspor melalui Batavia terlebih
dahulu dikumpulkan di suatu tempat, biasanya di ibukota daerah. Letak Manonjaya
kurang memenuhi untuk dijadikan tempat pengumpulan hasil-hasil perkebunan yang
ada di Galunggung.
Nama Kabupaten Sukapura pada tahun 1913 diganti namanya menjadi Kabupaten
Tasikmalaya dengan R.A.A Wiratanuningrat (1908-1937) sebagai Bupatinya.
Tanggal 21 Agustus 1111 Masehi dijadikan Hari Jadi Tasikmalaya berdasarkan
Prasasti Geger Hanjuang yang dibuat sebagai tanda upacara pentasbihan atau
penobatan Batari Hyang sebagai Penguasa di Galunggung.